Stoffel Vandoorne – Mengulik Kisah Pemimpin Klasemen Formula E

Stoffel Vandoorne adalah pemimpin klasemen sementara, sehingga kisahnya mulai dari awal karir hingga menjadi pembalap formula E papan atas menarik untuk ditelusuri. Pembalap asal Belgia berumur 30 tahun ini akan mengikuti Formula E yang akan …

stoffel vandoorne

Stoffel Vandoorne adalah pemimpin klasemen sementara, sehingga kisahnya mulai dari awal karir hingga menjadi pembalap formula E papan atas menarik untuk ditelusuri.

Pembalap asal Belgia berumur 30 tahun ini akan mengikuti Formula E yang akan dilaksanakan di Jakarta.

Awal Mula

Stoffel Vandoorne mirip seperti atlet-atlet seperti Lionel Messi yang sudah berkarir sejak umur yang masih belia. Faktanya, pemimpin klasemen formula E ini sudah dikenalkan kepada motorsport sejak masih berumur 6 tahun.

Pria kelahiran Kortrijk ini saat itu sedang mengunjungi kart track of world kats di Belgia bersama ayahnya.

Ia memulai karting setelah pemilik lintasannya memberikan mini kart kepada pembalap formula E tersebut.

Stoffel Vandoorne di Dunia Karting

Ternyata, awal karir dari pemimpin klasemen sementara formula E tidak berjalan mulus karena alasan keuangan. Karena alasan tersebut, ia hanya bisa mengikuti balapan hanya tiga sampai empat kali saja per tahun.

Meski dengan hambatan tersebut, Stoffel Vandoorne yang saat itu masih remaja berusia 16 tahun menjadi juara KF2.

Pada tahun 2009, ia menjadi runner-up CIK-FIA World Cup pada kategori KF2. Lalu, pada tahun yang sama ia juga memenangkan kompetisi steering wheel yang diselenggarakan oleh the royal automobile club of Belgium.

Kalau awalnya ia kesulitan untuk mengikuti balapan karena alasan keuangan, akhirnya setelah mendapatkan uang 45 ribu euro saat itu, ia bisa memulai karirnya di F4 Eurocup 1.6.

Karirnya di Formula Renault

stoffel vandoorne

Sudah tidak lagi mengikuti kompetisi karting dan KF2, ia hijrah ke balapan single-seater dan mengikuti kejuaraan F4 Eurocup 1.6 pada tahun 2010.

Baca juga  Formula E 2022 (Mei dan Juni 2022) – Apa yang Harus Kamu Tahu

Hebatnya, hanya dengan sekali percobaan, ia berhasil menang enam kali dalam semusim dan tiga podium finishes.

Lagi dan lagi, ia berhasil naik level sembari dengan menangnya ia di level kompetisi. Uang yang ia terima dari kompetisi ini membantunya naik level ke Europa Formula Renault 2.0. Selain itu, ia juga mendapatkan tempat di akademi pembalap FIA.

Setahun setelah itu, ia lulus dan berkompetisi di Europa Formula Renault 2.0. dengan tim Kurt Molleken. Berbeda dengan sebelumnya, ia hanya berhasil finish di peringkat 5.

Meski demikian, pada Europa Formula Renault 2..Northern Europan Cup, ia berhasil finish di posisi ketiga.

Pada tahun 2012, karirnya di formula Renault masih berlanjut, hanya saja, ia berpindh tim dari KTR ke Josef Kaufmann Racing.

Akhirnya Stoffel Vandoorne berhasil menjadi juara usai bersaing secara ketat dengan Daniil Kvyt. Di antarnaya, mereka memenangkan 11 dari 14 balapan yang diselenggarakan.

Pada tahun 2013, Stoffel Vandoorne mengikuti balapan di Formula Renault 3.5 dimana ia menggantikan Robin Frijns yang merupakan kampiun pada tahun 2012.

Di tahun yang sama, ia berhasil memenangkan balapan di homenya sendiri, yaitu lintasan spa-francorchamps.

Seri GP2

Pada tahun 2014, debut Stoffel Vandoorne dikonfirmasi dan ia bergabung dengan tim ART.

Balapan di Bahrain menjadi kemenangan pertamanya dalam seri GP2. Lalu, ia melanjutkan tiga kemenangannya di Hungaroring, Monza, dan Yas Marina.

Meskipun ia masih tergolong rookie di seri GP2, ia berhasil menjadi runner-up di musim tersebut, hanya kalah pada Jolyon Palmer.

Pada tahun 2015, ia kembali bergabung dengan tim ART dan diperhitungkan sebagai pesaing pada perebutan juara. Dia dipartnerkan bersama kampiun Jepang, Nobuhara Matsushita.

Baca juga  Mobil Formula E – Evolusi dari Gen 1 hingga Gen 3

Super Formula

Super formula adalah era dimana ia sebelum akhirnya menggeluti formula E.

Bahrain menjadi tempat ia memulai Super Formula. Saat itu, ia menggantikan Fernando Alonso dari tim McLaren setelah ia dilarang balapan karena dibilang tidak fit untuk ikut balapan akibat insiden sebelumnya.

Pada debut full-time-nya bersama McLaren, ia disandingkan dengan veteran Fernando Alonso. Meskipun demikian, karirnya pada tahun 2017 bisa dibilang kurang mulus karena selalu gagal masuk podium.

Pada tahun 2018, awal musimnya yang berjalan mulus dengan 3 poin pada 4 balapan pertama, ia mengalami kesulitan dalam musim pada tahun tersebut.

Akhirnya, ia memtuskan untuk hengkng dari McLaren pada akhir musim di tahun yang sama.

Bergabungnya Stoffen Vandoorne ke Mercedes menjadi cikal bakalnya di Formula E.

Stoffel Vandoorne Memulai Karir di Formula E

Pada 15 Oktober 2018, ia menjadi pembalap HWA Racelab untuk Formula E musim 2018-2019 dan berhasil memenangkan perlombaan pada musim itu.

Pada musim 2019-2020 karirnya berjalan mulus, ia mendapatkan dua kali podium pada dua balapan pertamanya.

Karena pandemi, musim saat itu diberhentikan dan ia berselisih cukup jauh dengan Antonio Felix da Costa.

Setelah pandemic, ia mencatatkan namanya menjadi pemimpin klasemen formula E 2022. Sebuah pencapaian yang luar biasa setelah melewati berbagai masa mulai dari karting hingga formula E saat ini.

Tinggalkan komentar